Kisah Amran Sulaiman, Dari Modal 500 Ribu Hingga Jadi Milyader


INSPIRASI — MAKASSAR, Founder AAS Foundation, Andi Amran Sulaiman tak kenal lelah membangkitkan optimisme para pemuda agar menjadi generasi unggul demi Indonesia yang lebih baik.

Kali ini Andi Amran berbagi motivasi dan inspirasi kepada wirausaha muda yang dikemas dalam acara dialog kewirausahaan diselenggarakan oleh Direktorat Kemahasiswaan dan Penyiapan Karir Universitas Hasanuddin.

Dialog ini digelar di Gedung Science Techno Park, Unhas Makassar, Rabu (22/2/2023).

Di hadapan para pelaku usaha muda, mantan Menteri Pertanian RI itu membeberkan kunci sukses dirinya yang merintis usaha dari tangga paling dasar.

Kala itu, Amran muda hanya mengantongi modal Rp 500 ribu bersumber dari pinjaman bank.

Berkat kegigihan dan kerja keras tanpa keluh dan kata menyerah, usahanya berkembang pesat hingga menghasilkan omset triliunan rupiah hanya dalam waktu 7 tahun.

Di bawah bendera Tiran Group, Andi Amran Sulaiman telah mendirikan puluhan anak usaha yang bergerak di berbagai lini.

Ia menegaskan, untuk meraih sukses tak cukup dengan gagasan, ide, maupun angan-angan. Tapi harus ada tindakan nyata untuk mewujudkan cita-cita.

“Gagasan tanpa action, nol!” tegasnya.

Selain memberi motivasi, Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) itu juga membedah upaya dan usaha dari para wirausahawan agar bisnisnya dapat naik kelas dan tumbuh eksponensial.

“UMKM mesti naik kelas. Caranya gampang. Kami naik kelas butuh 15 tahun, dari pinjam Rp 500 ribu, dalam 7 tahun tumbuh 3 triliun,” tutur Andi Amran.

Beberapa peserta juga diajak berdialog olehnya. Mulai dari pertanyaan dasar tentang waktu lamanya bekerja dalam sehari, atau soal jam bangun tidur setiap harinya.

Jauh sebelum mengenyam nikmatnya kesuksesan, bos Tiran Group ini sejatinya hidup serba kekurangan. Pedihnya kemiskinan menggenjot dirinya mengubah nasib.

Satu hal yang wajib diselami untuk meraih sukses adalah bekerja keraslah dan memulai segalanya sepagi mungkin. Mulai mencari rezeki di luar rumah bahkan sebelum matahari terbit.

“Mau sukses? Jangan lihat matahari terbit di rumah,” bebernya.

Andi Amran Sulaiman lahir di Bone, 27 April 1968, terlahir dari keluarga serba kekurangan secara ekonomi.

Ia adalah putra ketiga dari 12 bersaudara. Ayahnya adalah veteran angkatan bersenjata, Andi B. Sulaiman Dahlan Petta Linta.

Amran lahir dan menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Sejak umur 9 tahun, Amran kecil sudah harus bekerja menguras keringat demi untuk membayar iuran SPP sekolah.

Pernah menjadi pemecah batu, penggali sumur, bertani, penjual ikan, penjual ubi, serta menggembala sapi dilakoninya dengan gigih.

Setamat SMA, Amran diterima di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar.

Namun melihat kondisi ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan, Amran pun ragu melanjutkan pendidikan perguruan tinggi.

Saat itu gaji ayahnya sebagai tentara hanya Rp116 ribu untuk menghidupi seorang istri dan 12 anak.

“Ibu saya bilang (dengan bahasa bugis) lanjut saja kuliah. Soal biaya jangan dipikirin, pasti dikasih jalan,” kata Amran.

Saat kuliah, ia tinggal di rumah kos-kosan yang jauh dari kata layak huni. Kasur yang ditempati tidur pun berjamur. Makan pun serba pas-pasan demi mengirit untuk biaya pendidikan.

Singkat cerita, saat serangan hama tikus tengah marak di Indonesia, Amran pun terinspirasi menciptakan formula racun tikus. Amran membuatnya secara otodidak.

Lambat laun racun tikus miliknya digunakan oleh 2,5 juta petani di Indonesia. Bahkan bisa diekspor ke Jepang, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan beberapa negara lain.

Segala pencapaiannya menjadi magnet baginya masuk ke jajaran menteri Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014-2019.

Meski berasal dari kampung, Andi Amran Sulaiman dipercaya menjadi Menteri Pertanian dengan prestasi gemilang. (***)

Referensi :https://fajar.co.id/2023/02/22/kisah-amran-sulaiman-modal-rp500-ribu-dari-pinjaman-bank/

Berita Terkait

Top