Pernah Bangkrut, Alumni Magang Jepang Ini Panen Rupiah dari Ayam Petelur


INSPIRASI – BULUKUMBA, Sepulang dari Jepang sebagai tenaga magang, tahun 2004 ia merintis usaha budidaya udang.  SUKSES. Namun bencana alam longsor di Sinjai berimbas sampai di Basokeng tempat (tambak) ia budidaya udang. Akhirnya, ia pun rugi ratusan juta. BANGKRUT.

Baharuddin, ST. Semangat dan jiwa entrepreneurnya memang terbilang di atas rata-rata. Betapa tidak, sejak kuliah ia merintis Lembaga Bimbingan Belajar bernama LBB Gajah Mada pasca ia resign dari LBB Gama Makassar. LLB yang dibangun bersama temannya inilah menjadi sumber pundi-pundi keuangannya untuk biaya kuliah dan biaya hidup di Makassar.

Sempat diterima di PT. BUKAKA TEKNIK, sebuah  perusahaan yang bergerak dalam sektor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement & construction/EP&C) dengan penempatan di Pulau Jawa, namun ia tolak. Biaya hidup yang tinggi menjadi pertimbangan pria Desa Dwitiro Bontotiro ini.

Di waktu yang hampir bersamaan, ada lowongan penerimaan tenaga magang Jepang. Tes, lulus, berangkat. Selama kurang lebih 3 (tiga) tahun Baharuddin di negeri Sakura dengan gaji sekitar 15 (lima belas) juta rupiah perbulan. Gaji yang terbilang sangat tinggi untuk ukuran saat itu. Dari sinilah ia mulai berpikir untuk menabung dan memanfaatkan penghasilan itu sembari potensi apa yang cocok dikembangkan jika kelak ia pulang ke Indonesia.

“Saya sering masuk ke retail, Alfa Mart dan warung-warung di Jepang. Saya temukan harga udang di Jepang sangat tinggi. Waktu itu saya cek harga udang di sana sekitar 100 ribu. Di Indonesia juga saya cek, harganya nyaris sama.  Saya komunikasi ke kampung (Bulukumba, red) coba estimasi 1 hektar tambak ternyata bisa menghasilkan 1 ton udang. Kalau begitu 1 ha tambak bisa menghasilkan sekitar 100 juta rupiah, sangat menggiurkan. Akhirnya tahun 2004 balik Indonesia dan langsung budidaya udang, ”cerita Baharuddin.

Namun cerita manis ini tak berlangsung lama. Tahun 2006, bencana longsor melanda Kabupaten Sinjai dan sekitarnya. Basokeng Bulukumba sebagai tempat budidaya udang juga kena imbasnya. Baharuddin pun rugi ratusan juta rupiah.

Namun bukan Baharuddin sang alumni Jepang jika putus asa. Etos kerja dan semangat kemandirian yang ia dapatkan kala menjadi tenaga magang masih terpatri kuat di dalam dadanya. Sempat stress, down. Namun itu tak berlangsung lama.

“Saya tidak menyerah. Banyak potensi lain yang bisa dikembangkan. Apalagi semua sudah ditakdirkan oleh Allah, SWT. Semua miliknya. Saya pun ke Sidrap, ketemu sahabat lama yang sudah berprofesi sebagai Dosen. Saya konsultasi dan diajak keliling Sidrap. Akhirnya saya temukan ada kesesuaian antara Sidrap dan Bulukumba, “kenangnya.

Potensi peternakan ayam petelur dirasa cocok oleh Baharuddin. Di Sidrap ada lahan jagung yang luas, di Bulukumba pun demikian. Di Sidrap ada lahan sawah. Di Bulukumba pun sama. Sidrap memang terkenal sebagai salah satu kabupaten lumbung telur di Indonesia.

Ya, Kabupaten Sidrap merupakan salah satu daerah sentra produksi ternak ayam ras petelur (layer) terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan informasi dari Kementerian Pertanian, data produksi telur ayam ras di Kabupaten Sidrap, sebanyak 75.793 ton dari total populasi ayam ras petelur (layer) sebanyak 5.227.123 ekor. Sedangkan kebutuhan telur ayam ras sebanyak 70.472 ton. Sehingga terdapat surplus sebanyak 5.321 ton.

Akhirnya sepulang dari Bumi Nene Mallomo, Baharuddin pun merintis usaha ayam petelur.  Ia termasuk orang pertama di Bontotiro memulai usaha ayam petelur.  Sesuai prediksi, usaha ini berkembang pesat. Dari awalnya, Baharuddin hanya punya 2000 ribu ekor ayam petelur kini sudah mencapai 15,000 ekor ayam petelur.  

Memulai usaha baru tak selamanya mulus. Banyak rintangan menghadang. Pun demikian dengan usaha ayam petelur yang dirintis Baharuddin. Telur ras (layer) belum dikenal luas masyarakat Bulukumba kala itu sehingga pangsa pasarnya pun masih minim. “Butuh keberanian dan kematangan mental, barang ini bukan barang tahan lama. Barang busuk. Karena itu saya harus jeli cari pasarnya secepatnya, ”katanya.

Awalnya, Baharuddin datangi kios-kios, bahkan nongkrong di pasar-pasar desa. Kadang laku kadang tidak. Tapi semangat untuk mengembangkan usaha ini tak pernah patah arang hingga akhirnya ketemu pedagang di pasar sentral Bulukumba. Pedagang ini membeli telur ayam Baharuddin berapa pun yang diproduksi.  Dari sinilah cerita sukses Baharuddin dimulai sebagai pengusaha ayam petelur terbesar di Bontotiro dan pemasok ayam petelur untuk Bulukumba hingga Sulawesi Tenggara dengan omzet ratusan juta setiap bulannya.

Bahkan Baharuddin juga punya kesibukan baru sebagai konsultan dan pendamping usaha ayam petelur bagi masyarakat yang ingin memulai usaha sejenis. (***)

Referensi : 

Berita Terkait

Top