Netralitas ASN di Badai Politik


CATATAN KAKI — Malam itu, sebut saja Pak Baso duduk di sudut ruang tamunya yang sederhana. Tablet di tangannya menyala, menampilkan berita terbaru dari situs berita online. Matanya tertuju pada judul yang mencolok: 30 ASN Tersandung Kasus Netralitas di Pilkada. “Belum kampanye, sudah ada 30 kasus netralitas ASN ditangani Komisi Aparatur Sipil Negara,” kata Ketua Bawaslu Rahmat Bagja, dalam acara Forum Kolaborasi Sentra Gakkumdu se-wilayah Sumatera, yang disiarkan di YouTube, Kemenko Polhukam, Selasa (9/7/2024).

Hati Pak Baso tercekat. Berita ini bukan sekadar angka; ini adalah refleksi dari situasi yang ia hadapi sehari-hari.

Pak Baso menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia telah mengabdi sebagai ASN selama lebih dari dua dekade, melihat berbagai macam tekanan politik yang datang dan pergi. Namun, berita malam itu seperti memukulnya langsung di dada. Bagaimana mungkin netralitas yang selama ini ia junjung tinggi begitu mudah dipatahkan oleh sebagian rekan sejawatnya?

Esok paginya, di kantor yang penuh dengan kesibukan rutinitas, suasana terasa lebih berat. Pak Baso mengumpulkan rekan-rekannya untuk sebuah rapat darurat. Di depan ruangan, dengan pandangan tegas, ia memulai pertemuan. “Teman-teman, berita tadi malam menunjukkan betapa rentannya posisi kita. Netralitas bukan sekadar kata, ini adalah fondasi dari integritas kita sebagai ASN.”

Beberapa ASN terlihat gelisah, menyadari betapa nyata ancaman ini. Beberapa dari mereka telah merasakan tekanan dari berbagai pihak yang ingin mengamankan suara di Pilkada. “Pak Baso, kami tidak tahu harus bagaimana. Tekanan ini sangat berat,” ujar salah satu rekannya dengan nada putus asa.

Pak Baso mengangguk. Ia paham betul. Tekanan politik tidak hanya datang dalam bentuk ancaman, tetapi juga iming-iming. “Saya mengerti. Tetapi ingatlah, kita bekerja untuk masyarakat, bukan untuk partai atau calon tertentu. Netralitas kita adalah kunci kepercayaan publik.”

Di rumah, Pak Baso berdiskusi dengan istrinya, Bu Ani. “Mas, ini adalah ujian bagi integritas kita. Kalau kita menyerah, kita kehilangan semuanya,” kata Bu Ani dengan bijak. Dukungan dari istrinya selalu menjadi sumber kekuatan bagi Pak Baso. Dengan semangat baru, ia kembali ke kantornya keesokan harinya, siap menghadapi tantangan.

Pak Baso memutuskan untuk membentuk sebuah tim kecil yang bertugas mengawasi dan memastikan netralitas ASN di kantornya. Tim ini tidak hanya bertugas memantau, tetapi juga memberikan dukungan moral bagi mereka yang merasa tertekan. “Kita harus saling menguatkan,” kata Pak Baso dalam rapat pertama tim tersebut. “Netralitas kita adalah cermin dari integritas kita.”

Pak Baso berusaha menjadi ASN yang teguh pada prinsip netralitas dan integritas dalam mengemban tugasnya, terutama dalam konteks Pilkada. Bagi Pak Baso, jabatan adalah amanah yang harus diemban dengan penuh dedikasi dan tanpa memandang atau mendukung calon tertentu. Ia menolak godaan jabatan atau iming-iming politik, lebih mengutamakan pencapaian dan prestasi sebagai bukti komitmen terhadap pelayanan masyarakat yang berkualitas dan adil.

Ketika kampanye semakin memanas, tekanan politik semakin kuat. Namun, dengan tekad yang bulat, Pak Baso dan timnya terus berusaha menjaga netralitas. Mereka mengadakan pelatihan, diskusi, dan sesi konseling untuk membantu rekan-rekan mereka bertahan.

Pilkada pun tiba. Meski suasana tegang, Pak Baso memimpin timnya dengan tenang, memastikan semua berjalan sesuai aturan. Setelah hari yang panjang, ketika hasil Pilkada diumumkan, Pak Baso merasa lega. Bukan karena siapa yang menang, tetapi karena ia tahu bahwa ia dan timnya telah menjalankan tugas mereka dengan integritas.

Beberapa bulan kemudian, dampak dari kerja keras mereka mulai terasa. Pelayanan publik di kantor mereka membaik, dan kepercayaan masyarakat terhadap ASN mulai tumbuh kembali. Pak Baso sadar bahwa perjuangan untuk menjaga netralitas tidak akan pernah berakhir, tetapi ia juga tahu bahwa selama ada orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip, harapan selalu ada.

Kisah Pak Baso adalah pengingat bahwa di tengah arus politik yang deras, netralitas dan integritas ASN adalah fondasi yang harus selalu dijaga. Dan selama ada yang bersedia berdiri tegak untuk prinsip ini, kepercayaan publik terhadap birokrasi akan tetap terjaga.(Redaksi)

Berita Terkait

Top